Tingkatan Hasad

Merasa tidak suka terhadap nikmat yang ada pada orang lain,
sudah disebut hasad oleh Ibnu Taimiyah,
walau tidak menginginkan nikmat tersebut hilang.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ

“Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap
keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.”
(Majmu’ Al Fatawa, 10: 111).

Tingkatan hasad yang kami maksudkan di atas:

1- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang
meski tidak berpindah padanya. Orang yang hasad lebih punya
keinginan besar nikmat orang lain itu hilang,
bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya.

Seharusnya setiap orang memperhatikan bahwa setiap
nikmat sudah pas diberikan oleh Allah pada setiap makhluknya
sehingga tak perlu iri dan hasad. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan
Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain.
(Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan,
dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan,
dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An Nisa’: 32)

2- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang
lalu berkeinginan nikmat tersebut berpindah padanya.
Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain,
ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja biar kekuasaan tersebut berpindah padanya.

Tingkatan hasad kedua ini sama haramnya namun lebih ringan dari yang pertama.

3- Tidak punya maksud pada nikmat orang lain,
namun ia ingin orang lain tetap dalam keadaannya yang miskin dan bodoh.
Hasad seperti ini membuat seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain.

4- Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang,
namun ia ingin orang lain tetap sama dengannya.
Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya,
barulah ia hasad dengan menginginkan nikmat orang lain
hilang sehingga tetap sama dengannya. Yang tercela adalah
keadaan kedua ketika menginginkan nikmat saudaranya itu hilang.

5- Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan
nikmat orang lain hilang. Inilah yang disebut dengan ghibthoh
sebagaimana terdapat dalam hadits berikut.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,
ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang,
yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta
lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan
orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah),
ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816)

Inilah maksud berlomba-lomba dalam kebaikan,

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al Muthoffifin: 26)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Sumber https://rumaysho.com/10158-tingkatan-hasad-waspadalah.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *